Inovasi TAMPLEK: Taman Proklim Lebah Klanceng
Inovasi TAMPLEK: Taman Proklim Lebah Klanceng
TAMPLEK (Taman Proklim Lebah Klanceng)
Inisiatif pengembangan Taman Proklim Lebah Klanceng (TAMPLEK) berawal dari fenomena pembalakan liar dan laju deforestasi yang semakin tinggi yang berakibat terjadinya kerusakan lingkungan hidup dan peningkatan laju perubahan iklim. Berbagai macam bencana yang terjadi di Kabupaten Kebumen dalam dekade terakhir seperti tanah longsor, banjir dan kekeringan disebabkan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap upaya perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup. Sepuluh tahun terakhir tingkat penebangan pepohonan oleh masyarakat di Kabupaten Kebumen meningkat. Proses ini terjadi di hutan rakyat maupun hutan milik perhutani di wilayah Kabupaten Kebumen. Kayu bakar merupakan salah satu komoditas penting bagi masyarakat desa-desa di wilayah hutan karena penggunaannya untuk bahan bakar tungku pabrik genteng dan batubata serta sebagian besar tungku dapur masyarakat desa, sedangkan kayu keras dikonsumsi untuk produksi dan furniture. Data penebangan kayu di masing-masing Kecamatan di Kabupaten Kebumen rata-rata lebih dari 2000 m3 per tahun.
Kegelisahan dengan kondisi tersebut mengisyaratkan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Kabupaten Kebumen untuk membuat program yang dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengurangi pembalakan liar dan laju deforestasi yang cenderung meningkatkan laju perubahan iklim. Perubahan iklim sebagai perubahan yang disebabkan baik secara langsung atau tidak langsung oleh aktivitas manusia mengubah komposisi dari atmosfer global dan variabilitas iklim alami pada perioda waktu tertentu. Kenaikan emisi gas rumah kaca pada atmosfer menyebabkan kenaikan suhu rata-rata global.
Taman Proklim Lebah Klanceng (TAMPLEK) adalah taman budidaya lebah Klanceng dan tetumbuhan yang didesain untuk meningkatkan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim serta memiliki peran penting dalam melindungi dan melestarikan lingkungan hidup, meningkatkan upaya pengentasan kemiskinan, meningkatkan ketahanan pangan, serta melaksanakan pemberdayaan dan peningkatan kesehatan masyarakat. Taman Proklim Lebah Klanceng merupakan perpaduan antara Taman Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem dan Program Kampung Iklim sebagai upaya pengendalian dan pelestarian lingkungan hidup melalui pemberdayaan masyarakat dan penguatan ketahanan ekonomi.
TAMPLEK berusaha menumbuhkembangkan kearifan lokal masyarakat dalam mengelola lingkungan hidup dan mengambil manfaat ekonomi dari potensi sumberdaya lokal, karena lebah Klanceng tumbuh secara liar di wilayah pesisir dan pegunungan Kabupaten Kebumen. Keberadaan ekosistem yang baik akan memberikan dukungan terhadap kemampuan manusia dalam beradaptasi terhadap perubahan iklim. Pelaksanaan adaptasi untuk melindungi dan mempertahankan ekosistem dari dampak perubahan iklim bermanfaat dalam membantu masyarakat beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim melalu jasa dan fungsi yang dihasilkannya. Inovasi TAMPLEK diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya tanaman bunga dan buah di lingkungan sekitarnya sehingga terjadi perubahan pola hidup masyarakat yang tahan akan risiko berubahnya iklim serta rendah emisi karbon yang disesuaikan dengan prioritas, kebutuhan, pemahaman dan kapasitas masyarakat di wilayah setempat. TAMPLEK merupakan program perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang berisi pemberdayaan ekonomi masyarakat yang efektif dan bermanfaat menghasilkan sumbangsih terhadap bidang kesehatan dengan produksi madu asli Klanceng dan propolis yang masih langka di pasaran. Taman proklim lebah klanceng juga berkembang menjadi wisata edukasi yang unik di Kabupaten Kebumen dengan muatan aspek edukasi lingkungan hidup, kehutanan, ekonomi, biologi, dan sosial kemasyarakatan.
Salah satu lebah penghasil madu dan propolis adalah lebah Trigona (Klanceng) yang merupakan jenis lebah tanpa sengat (stingless). Madu dan propolis yang dihasilkan oleh lebah Klanceng sangat ditentukan oleh keberadaan tanaman sebagai sumber pakan di sekitar sarangnya. Kelimpahan sumber pakan yang tinggi akan meningkatkan produksi madu dan propolis lebah Klanceng. Tanaman pakan yang sering dikunjungi lebah madu diantaranya adalah Impatiens balsamina (pacar air), Carica papaya (pepaya), Ageratum houstonianum, Psidium guajava (jambu biji), Helianthus sp (bunga matahari), Acacia sp (akasia), Caliandra brevipes (Kaliandra), Mimosa pudica (putri malu), Capsicum sp (cabai) dan Cocosnucifera (kelapa). Beberapa jenis tanaman dukungan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Kabupaten Kebumen yang memperkaya Taman Proklim Lebah Klanceng yaitu duren, blimbing, kakao, klengkeng, mangga, rambutan, kopi, pacar air, kenikir kuning, marigol, dan bunga kertas.
Melalui Taman Proklim Lebah Klanceng (TAMPLEK), diharapkan ada upaya pembangunan ramah lingkungan yang diinisiasi dari bawah (bottom up) yang dapat membimbing dan menumbuhkan kampung iklim sejenis di wilayah sekitarnya, khususnya di Kabupaten Kebumen. TAMPLEK memberikan dampak positif terhadap penduduk Desa Kalipoh Kecamatan Ayah dan hal ini memberi inspirasi bagi desa-desa lain di wilayah Kabupaten Kebumen yang meniru dan memodifikasi metode ini. Budidaya lebah Klanceng dapat dilakukan oleh semua kelompok umur baik laki-laki maupun perempuan dan menjadi salah satu alternatif pekerjaan bagi penyandang cacat dan disabilitas karena tidak membutuhkan keahlian khusus serta relatif mudah dipelajari. Bagi masyarakat Desa Kalipoh yang mayoritas bermata pencaharian produksi gula kelapa, budidaya lebah Klanceng menjadi alternatif usaha yang cukup menjanjikan karena madu Klanceng merupakan minuman kesehatan yang relatif masih langka dan harga per liternya cukup mahal (Rp.70.000/150 ml, Rp.100.000/250 ml, Rp 395.000/L).
Kehadiran TAMPLEK merupakan perpaduan antara program lingkungan hidup dan kehutanan, program pemberdayaan masyarakat dan program pertanian dan peternakan. Dalam konteks perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup, kampung iklim yang terbentuk berbasis pemberdayaan kelompok masyarakat dalam memanfaatkan potensi dan kearifan lokal yang ada pada masyarakat pesisir pantai selatan Kabupaten Kebumen. TAMPLEK menyadarkan masyarakat bahwa kebutuhan tetumbuhan di wilayah sekitarnya sangat penting ketika mereka memelihara klanceng sehingga angka penebangan pohon untuk kebutuhan konsumtif dapat berkurang. Perkembangan luas tutupan vegetasi hutan meningkat dari tahun 2016 seluas 150 ha menjadi 162 ha pada tahun 2018.
Taman proklim lebah klanceng (TAMPLEK) merupakan inovasi dalam usaha perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup karena memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kelestarian fungsi ekosistem dengan melakukan perbanyakan koloni lebah Klanceng dan perbanyakan tumbuhan dan bunga. Masyarakat merasakan manfaat dari pohon dan tanaman yang ada disekitar untuk menopang pakan lebah klanceng yang awalnya banyak ditebang untuk kebutuhan kayu bakar, pada akhirnya dipelihara untuk mendukung pakan lebah klanceng sehingga kelestarian tetumbuhan meningkat. Masyarakat dituntut untuk menanam bunga dan pohon untuk menambah pakan lebah klanceng. Masyarakat juga menginisiasi terbitnya Peraturan Desa (PERDES) perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup sebagai payung hukum menuju lingkungan yang lestari.
Perkembangan budidaya klanceng meningkat sangat pesat dari awal mulai tahun 2016 sebanyak 567 koloni dengan omset Rp. 56.700.000 meningkat sebanyak 12.139 koloni dengan omset Rp. 1.213.900.000 pada tahun 2018. Budidaya lebah Klanceng juga banyak bermunculan di desa-desa lain di Kabupaten Kebumen baik usaha kelompok maupun usaha keluarga karena daya tarik produksi madu dan sarang lebah (propolis). Keberadaan lebah Klanceng di satu sisi menjadi hewan yang membantu penyerbukan berbagai macam tumbuhan bunga dan buah yang ada di Desa Kalipoh Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen.
Inovasi TAMPLEK memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan di wilayah lain. Hal ini terbukti dengan munculnya pengembang atau peternak lebah klanceng di desa-desa lain baik di sekitar desa Kalipoh maupun di seluruh wilayah Kabupaten Kebumen baik secara berkelompok maupun individual. Kelompok masyarakat yang memiliki minat terhadap usaha budidaya lebah madu klanceng didampingi oleh pengurus KTH Klanceng Barokah (Desa Kalipoh) hingga menguasai teknik budidayanya. KTH Klanceng Barokah juga mendorong kelompok masyarakat tersebut untuk membentuk kelompok Tani Hutan guna memudahkan pengembangan usaha. Beberapa kelompok yang sudah mendapatkan pendampingan dari TAMPLEK :Desa Pasir, Desa Argosari, Desa Tlogosari, Argopeni, dan Desa Jintung.
Ide dan penemuan baru dapat bertahan jangka panjang dan berkelanjutan ketika memiliki dampak ekonomi terhadap masyarakat. Taman proklim lebah klenceng selain sebagai program perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup juga merupakan program pemberdayaan ekonomi masyarakat yang sangat efektif, yaitu masyarakat bisa mendapatkan tambahan pendapatan dari kegiatan ini. Masyarakat menjadi elemen inti yang menyokong keberlanjutan program. Selain itu, taman proklim lebah klanceng juga memberikan sumbangsih dalam bidang kesehatan dan menyediakan madu asli klanceng yang sekarang mulai jarang di dapatkan. Taman proklim lebah klanceng juga menjadi wisata edukasi yang unik di kebumen dengan menyajikan edukasi ilmiah berbasis budidaya lebah klanceng sambil mengenalkan pentingnya kelestarian lingkungan hidup dan kehutanan. Banyak siswa sekolah yang telah melakukan studi lapangan di wilayah Kampung Klanceng termasuk beberapa paguyuban dan kelompok masyarakat. Lebah Klanceng diketahui dapat menghasilkan madu yang mempunyai kandungan vitamin C yang berfungsi sebagai antibiotik, antitoksin, antioksidan serta untuk meningkatkan sistem imun atau kekebalan tubuh.
