Kampung Garam Kebumen, TOP 45 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2020
Kampung Garam Kebumen, TOP 45 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2020
Kampung Garam Kebumen, TOP 45 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2020
Indonesia masih import garam dari luar negeri lebih dari 2 juta ton/tahun dan Kebumen masih import garam dari luar daerah lebih dari 2 ribu ton/tahun. Kondisi ini tentu akan menjadi permasalahan dimasa depan apabila tidak ada penanganan serius dari pemerintah. Oleh karena itu guna mengurangi ketergantungan import garam, disisi lain untuk meningkatkan ketahanan pangan produk garam perlu adanya inovasi produksi garam kususnya di kabupaten Kebumen. Untuk mendukung produksi garam berkelanjutan maka dibentuklah suatu Kelompok Usaha Garam Rakyat (KUGAR) yang terintegrasi yaitu: Kampung Garam kebumen.
Kampung Garam Kebumen adalah gagasan Dinas Kelautan dan Perikanan menciptakan kampung/kawasan usaha garam untuk dapat memproduksi garam sendiri (swasembada).
Pembentukan Usaha Garam Rakyat sebagai upaya pendukung sektor ekonomi bertujuan untuk meluaskan kesempatan kerja, pemerataan pendapatan dan peningkatan taraf hidup masyarakat.
Pengembangan usaha garam di Kabupaten Kebumen dihadapkan pada beberapa tantangan yaitu: Produksi yang berkelanjutan, Pengolahan produk garam dan Pemasaran Produk.
Tantangan Produksi usaha garam yang berkelanjutan dihadapkan pada: Biaya produksi garam yang relatif tinggi. Pengolahan produk garam antara lain: Pengembangan diversifikasi produk garam; Peningkatan daya saing produk, Penguatan jaminan mutu terhadap produk garam. Pemasaran produk garam: Harga garam diluar Kabupaten Kebumen relative lebih murah, Segmen Pemasaran belum menjangkau luas dikarenakan harga garam kabupaten kebumen lebih tinggi dari kabupaten lain sehingga dari aspek harga kalah bersaing, Industri masih menggunakan garam import.
Gambaran Program
Program usaha garam rakyat (Kampung Garam) di Kabupaten Kebumen dimulai sejak tahun 2020 dan sampai saat ini masih berkelanjutan. Awal pembentukan kelompok garam di kebumen berjumlah 13 kelompok sampai dengan Tahun 2024 bertambah kelompok menjadi 26 kelompok yang terdaftar di Dinas dan sudah memiliki Surat Tanda Daftar Kelompok (STDK).
Produksi garam kebumen pada Tahun 2020 berupa garam krosok dan garam konsumsi (Garan Non Organik). Kemudian dengan berjalannya waktu sampai dengan saat ini jenis produk garam kebumen mulai diversifikasi, diantaranya yaitu: garam kecantikan (garam spa dan garam lulur), dan Garam Konsumsi (Garam organik/garam rebus, dan varian pedas).
Pelaksanaan kegiatan Program pengembangan Kampung Garam berupa: Program pembinaan dan pelatihan diversifikasi Olahan Garam baik dari provinsi, institusi maupun kabupaten Kebumen.
Kampung Garam Kebumen adalah gagasan Dinas Kelautan dan Perikanan kebumen untuk menciptakan kampung/kawasan usaha garam agar dapat memproduksi garam sendiri (swasembada) dengan diinisiasi oleh Bupati sehingga program Kampung Garam dapat berkelanjutan.
Sasaran program adalah masyarakat setempat.
Tujuan dari pembentukan kampung garam kebumen adalah:
- Memberikan kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar kususnya wilayah pesisir pantai atau kelompok usaha garam rakyat yang sudah terbentuk agar lebih produktif
- Meningkatkan pendapatan sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan
- Mampu memproduksi dan memasarkan garam
- Sebagai wahana edukasi (eduwisata) bagi masyarakat luas
Dasar hukum perencanaan program
Perpres nomor 79 tahun 2019 tentang percepatan pembangunan ekonomi Kawasan (peningkatan produksi garam pansela)
Pendanaan
Pendanaan bersumber dari:
- APBN Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (pembangunan tunnel garam, pavingisasi, serta sarana dan prasarana bagi Kelompok Usaha Garam Rakyat (KUGAR) CSR 13 Desa Tlogopragoto Kec. Mirit)
- APBD Provinsi Jawa Tengah (Pembangunan tunnel dan Gudang Garam Kelompok Usaha Garam Rakyat (KUGAR) Tirto Asin dan Sinar Usaha Desa Ambal Kec. Ambal, Kugar Mugi Berkah dan Berkah Garsilum Desa Sidoharjo Kec. Puring.
- APBD Kabupaten Kebumen (Pembangunan tunnel, Gudang Garam dan mini market untuk penjualan produk garam)
Penggunaan anggaran dari APBN/APBD tersebut diperuntukan guna pembangunan sarana dan prasarana produksi garam rakyat kabupaten kebumen.
Sebelum terbentuknya kampung garam kebumen, kelembagaan usaha garam masih dikelola oleh individu/kelompok secara swadaya dengan produksi yang sangat minim dan kelengkapan sapras yang belum memadahi. Dengan adanya kampung garam dan di dukung sarana dan prasarana (Bantuan Hibah) produksi garam mengalami peningkatan produksi dan perkembangan diversifikasi produk garam. Kelompok Usaha Garam Rakyat (KUGAR) juga mendapatkan pelatihan-pelatihan dan pembinaan terkait usaha garam rakyat.
Dampak bagi Masyarakat
Adanya Kampung Garam Kebumen sangat berdampak positif bagi masyarakat sekitar kususnya bagi pelaku usaha garam dan masyarakat pada umumnya diantaranya:
- Meningkatkan kesejahteraan kelompok usaha garam (KUGAR);
- Hasil produksi garam Kebumen dapat dimanfaatkan bagi masyarakat sebagai penunjang kebutuhan sehari-hari (sebagai konsumsi, kecantikan dan kesehatan);
- Sebagai edu wisata bagi masyarakat setempat, pelajar/mahasiswa, masyarakat maupun institusi lain.
Produksi Garam kebumen pada tahun 2020 sampai dengan tahun 2021 mengalami kenaikan jumlah produksi sebesar 7,83%. Sedangkan nilai produksi menurun 19,12%. Hal ini disebabkan kelompok garam melakukan produksi secara terus menerus didorong dengan factor cuaca yang mendukung sehingga jumlah produksi meningkat. Di sisi lain nilai jual garam dari tahun 2020 ke 2021 mengalami penurunan (relative murah) karena harus bersaing dengan harga pasar di kabupaten lain sehingga dilihat dari nilai produksi menurun.
Produksi garam pada tahun 2021 ke 2022 mengalami penurunan 12,61% dikarenakan faktor cuaca yang tidak mendukung (namun dengan sistem tunnel pelaku usaha tetap bisa produksi walaupun tidak maksimal. Sedangkan nilai produksi naik 16,50% karena Kabupaten lain tidak memproduksi garam (kabupaten lain menggunakan sistem hamparan sehingga ketika cuaca tidak mendukung untuk produksi, menyebabkan kelangkaan garam).
Produksi garam pada tahun 2022 ke 2023 mengalami penurunan sebesar: 15,65% dikarenakan faktor cuaca yang tidak mendukung dan kendala teknis pada tunnel. Pada nilai produksi juga mengalami menurun sebesar: 45,97% dikarenakan nilai jual yang relative murah dan harus kembali bersaing dengan Kabupaten lain yang relative lebih murah.
